| TANAMAN: Sorgum (Sorghum bicolor L. Moench) merupakan tanaman serealia yang sudah lama dikenal di sejumlah wilayah Indonesia - Foto Dok |
HABARDIGITAL.COM, BALIKPAPAN - Di tengah hamparan buah naga yang menjadi primadona Kelompok Wanita Tani (KWT) Daun Sop Ceria, tumbuh tanaman dengan bentuk yang sekilas sederhana. Bulir-bulirnya menyimpan potensi yang perlahan mulai dilirik para perempuan di area Kawan Patra KM21 di Kelurahan Karang Joang, Kecamatan Balikpapan Utara yang juga merupakan kawasan program CSR Pertamina.
Sorgum (Sorghum bicolor L. Moench) merupakan tanaman serealia yang sudah lama dikenal di sejumlah wilayah Indonesia, termasuk Jawa, Nusa Tenggara Barat, dan Nusa Tenggara Timur.
Gagasan memanfaatkan sorgum sejalan dengan diversifikasi pangan, yakni upaya memperbanyak pilihan pangan agar masyarakat tidak bergantung pada satu jenis makanan pokok
BACA JUGA: Dirut Jasa Raharja Ungkap Strategi AI untuk Cegah Kecelakaan dan Perkuat Pelayanan
Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) mencatat, setiap 100 gram sorgum mengandung sekitar 332 kalori, 73 persen karbohidrat, 11 persen protein, serta zat besi sekitar 4,4 miligram.
Bagi Sanati, sorgum menjadi penemuan menarik dalam perjalanan kelompoknya mengembangkan lahan. Tanaman yang selama ini lebih dikenal sebagai salah satu sumber pangan di sejumlah daerah ternyata mampu tumbuh dengan baik di Balikpapan.
“Sorgum itu tanaman pengganti beras, termasuk makanan pokok. Ternyata di Balikpapan ini luar biasa bagus. Bukan hanya di Sulawesi, di sini juga sangat bagus,” ujar Sanati, saat ditemui Kamis (27/8/2026) lalu.
Bagi KWT Daun Sop Ceria, kehadiran sorgum bukan sekadar menambah jenis tanaman di kebun. Ia membuka pintu bagi gagasan yang lebih besar: memperkenalkan dan mengembangkan pangan alternatif.
Biji sorgum dapat diolah menjadi beragam pangan setelah melalui proses pengolahan. Mulai dari bubur, nasi, hingga berbagai pangan olahan tradisional.
Yang membuat Sanati semakin tertarik adalah karakter tanaman tersebut. Berdasarkan pengalaman mereka, sorgum relatif mudah dibudidayakan. Setelah dipanen dan ditebas, tanaman masih dapat kembali tumbuh.
“Perawatannya lebih mudah. Kemarin setelah panen pertama, kami tebas, kemudian tumbuh lagi. Ternyata di Balikpapan lebih mudah,” katanya.
Pengalaman itu menjadi pelajaran baru bagi anggota KWT. Mereka tidak lagi melihat kebun hanya sebagai tempat menanam komoditas yang sudah dikenal dan memiliki nilai jual, tetapi juga sebagai ruang untuk bereksperimen dengan sumber pangan lain.
BACA JUGA: Terkait Dugaan Investasi Kripto Ilegal, Satgas PASTI Hentikan Kegiatan 2 Perusahaan Tak Berizin
Dari buah naga mereka belajar tentang nilai ekonomi. Dari sayuran mereka belajar memenuhi kebutuhan pangan. Sementara dari sorgum, mereka kembali diingatkan bahwa ketahanan pangan dapat dimulai dari tanah yang ada di sekitar mereka.
Sebab, di tangan para perempuan KWT Daun Sop Ceria, setiap tanaman memiliki cerita dan setiap bulir yang tumbuh menyimpan kemungkinan untuk masa depan.
Sementara itu Area Manager Communication, Relations & CSR PT Pertamina Patra Niaga Regional Kalimantan, Edi Mangun, mengatakan program tersebut merupakan bagian dari tanggung jawab sosial perusahaan kepada masyarakat.
“Kami memiliki tanggung jawab sosial kepada masyarakat. Dalam mekanismenya, kami melakukan program sesuai dengan keputusan dan surat Menteri BUMN terkait pemberdayaan masyarakat sebagai bentuk tanggung jawab sosial yang harus kami dukung dan lakukan,” jelas Edi.
Menurut dia, program tersebut merupakan salah satu dari berbagai program pemberdayaan yang dijalankan Pertamina Patra Niaga di wilayah Kalimantan.
Pendampingan dilakukan melalui berbagai bentuk, mulai dari pelatihan teknik budi daya, pembibitan, perawatan tanaman, hingga edukasi mengenai pemasaran hasil pertanian.
“Lahan milik warga, kami membantu dengan pelatihan-pelatihan terkait pembibitan, masa pertumbuhan tanaman, dan lainnya. Kami juga memberikan edukasi terkait bagaimana memasarkan hasilnya,” terang Edi. (fs/ak)