![]() |
| PENGECEKAN: Salah satu petugas melakukan pengecekan - Foto Ist |
HABARDIGITAL.COM, BANJARMASIN – PAM Bandarmasih kembali menghentikan operasional Intake Sungai Bilu setelah kadar garam di sumber air baku tersebut melonjak hingga 4.690 ppm pada Minggu (23/8/2026) pagi.
Penghentian operasional dilakukan mulai pukul 07.00 Wita karena tingginya kadar garam dinilai tidak memungkinkan air baku untuk diolah. Kadar garam masih tercatat tinggi pada pukul 08.00 Wita, yakni 4.424 ppm, kemudian turun menjadi 3.537 ppm pada pukul 09.00 Wita.
Kondisi tersebut berdampak langsung terhadap debit air baku yang masuk ke sistem produksi. Pada pukul 06.00 Wita, debit air baku dari Intake Sungai Bilu masih mencapai 365 meter kubik per jam. Namun, setelah intake dihentikan, debit turun menjadi 0 meter kubik per jam pada pukul 07.00 hingga 09.00 Wita.
BACA JUGA: Resmi Dilegitimasi PMI Kalsel, Hj Ananda Pimpin PMI Banjarmasin Periode 2025–2030
Direktur PAM Bandarmasih, Zulbadi, mengatakan keputusan menutup intake dilakukan karena kadar garam telah berada pada level yang terlalu tinggi untuk memungkinkan air baku diproses.
“Mulai pukul 07.00 pagi ini sudah ditutup total. Pukul 07.00 sampai 09.00 tadi kadar garam sangat tinggi, jadi terpaksa kami off-kan dulu,” ujar Zulbadi, Minggu (23/8/2026).
Tingginya kadar garam di Sungai Bilu berkaitan dengan semakin kuatnya intrusi air laut selama musim kemarau. Kondisi tersebut menyebabkan pengambilan air baku tidak dapat dilakukan secara normal.
Zulbadi menjelaskan, tingginya kadar garam terjadi baik ketika kondisi sungai surut maupun pasang. Saat surut, kadar garam air masih terlalu tinggi, sedangkan ketika pasang, masuknya air laut ke aliran sungai kembali meningkatkan kadar garam.
“Pada saat surut air baku tidak bisa diambil karena kadar garam tinggi. Saat pasang juga tidak bisa dipakai karena intrusi air laut yang masuk dan membuat kadar garam tinggi,” jelasnya.
Penghentian Intake Sungai Bilu paling berdampak terhadap wilayah yang selama ini memperoleh pasokan dari IPA 1, terutama Kecamatan Banjarmasin Utara dan Banjarmasin Barat.
Dampak tersebut terutama dirasakan pelanggan yang berada di kawasan ujung jaringan, termasuk wilayah Alalak, karena berkurangnya pasokan air baku dapat memengaruhi kontinuitas distribusi.
Untuk mengurangi dampak gangguan, PAM Bandarmasih berupaya mengakomodasi kebutuhan air baku IPA 1 melalui transfer dari IPA 2.
Air baku IPA 2 bersumber dari Intake Sungai Tabuk dan Pematang Panjang. Selain melakukan transfer, PAM Bandarmasih juga menerapkan metode mixing atau pencampuran air baku untuk menurunkan kadar garam dari Intake Sungai Bilu agar masih dapat memenuhi persyaratan pengolahan.
Di sisi lain, tim produksi disiagakan selama 24 jam untuk memantau perubahan kadar garam di Sungai Bilu. Jika kadar garam turun hingga berada pada kondisi yang memungkinkan untuk diolah, operasional intake akan kembali dijalankan.
Dengan kondisi tersebut, pengoperasian Intake Sungai Bilu saat ini dilakukan secara buka-tutup mengikuti fluktuasi kadar garam. Intake akan dihentikan apabila kualitas air baku tidak memungkinkan untuk diproses.
Zulbadi mengatakan langkah penghentian sementara tersebut merupakan bagian dari upaya PAM Bandarmasih menjaga kualitas air yang diterima masyarakat.
“Kami memahami bahwa kondisi ini sangat berdampak terhadap pelayanan kepada pelanggan. Namun, kualitas air yang didistribusikan kepada masyarakat tetap menjadi prioritas utama,” katanya.
BACA JUGA: Presiden Prabowo Pantau Karhutla di Kalimantan, Tambah Helikopter hingga Personel
PAM Bandarmasih juga mengimbau pelanggan untuk menghemat penggunaan air selama kondisi tersebut berlangsung. Penurunan debit air baku berpotensi memengaruhi kontinuitas distribusi, khususnya bagi pelanggan yang berada di wilayah ujung jaringan.
“Kami memohon maaf sebesar-besarnya atas ketidaknyamanan yang dirasakan pelanggan. Tim terus melakukan upaya maksimal untuk memulihkan pelayanan secepat mungkin,” tandas Zulbadi.
PAM Bandarmasih memastikan kondisi Intake Sungai Bilu akan terus dipantau. Pengoperasian intake akan disesuaikan dengan perkembangan kadar garam di sumber air baku guna menjaga keseimbangan antara kontinuitas pelayanan dan kualitas air yang didistribusikan kepada pelanggan. (nt/ak)
