Berawal dari Memilih Sampah, Ibu-Ibu di Bawah Jembatan Kuin Menumbuhkan Harapan

KEGIATAN: Anggota KSM Patih Masih yang mayoritas merupakan ibu rumah tangga menjalankan kegiatan secara bergiliran - Foto Dok

HABARDIGITAL.COM, BANJARMASIN - Di bawah Jembatan Kuin, Jalan Kuin Selatan, Kelurahan Kuin Cerucuk, Banjarmasin Barat, sesuatu yang dulu nyaris tak dipandang kini tumbuh menjadi ruang penuh aktivitas.

Pagi itu, tangan-tangan perempuan sibuk bekerja. Ada yang memilah sampah organik, mengolah sisa makanan, merawat tanaman, memantau maggot, hingga mengecek kolam ikan lele.

Tidak ada mesin produksi besar. Tidak pula gedung luas dengan fasilitas mewah. Hanya lahan terbatas yang dimanfaatkan sebaik mungkin oleh belasan ibu rumah tangga yang percaya bahwa sesuatu yang dianggap tidak berguna masih dapat memberikan manfaat.

Di tempat itulah Kelompok Swadaya Masyarakat (KSM) Patih Masih menjalankan program Sustainable Waste Solutions (SWS), program binaan PT Pertamina Patra Niaga Integrated Terminal (IT) Banjarmasin.

BACA JUGA: Energi Surya Jadi Penggerak Ekonomi dan Ketahanan Pangan Warga Cilacap

Bagi mereka, sampah bukan lagi sekadar sesuatu yang harus dibuang. Sampah telah menjadi awal dari sebuah siklus.

Sisa makanan dan buah-buahan dikumpulkan untuk diolah menjadi pakan maggot. Larva lalat Black Soldier Fly (BSF) itu kemudian dapat dimanfaatkan sebagai sumber protein untuk pakan ikan. Sementara sisa pengolahan sampah organik dimanfaatkan menjadi kompos untuk menyuburkan tanaman pangan.

Di sisi lain, sampah plastik diolah menjadi ecobrick. Satu benda yang sebelumnya dianggap tidak bernilai, diputar kembali agar memiliki fungsi.

“Sebagai agen 3R kami mengelola sampah, sosialisasi, dan edukasi untuk sampah organik dan anorganik kepada warga. Dari situ kami membentuk kelompok dan mengolah sampah organik menjadi kompos yang kemudian digunakan sebagai pupuk tanaman pangan,” ujar Ketua KSM Patih Masih, Kurniati, Senin (7/9/2026).

Perjalanan KSM Patih Masih tidak dimulai dari sebuah program besar.

Sebelumnya, Kurniati bersama warga merupakan bagian dari agen 3R yang beranggotakan 16 orang dari RT 1 hingga RT 16 di RW 1 Kelurahan Kuin Cerucuk.

Dari aktivitas sederhana memilah dan mengedukasi warga mengenai sampah, muncul gagasan untuk mengembangkan pengelolaan sampah menjadi kegiatan yang lebih produktif.

Kini, 16 anggota KSM Patih Masih yang mayoritas merupakan ibu rumah tangga menjalankan kegiatan secara bergiliran.

Ada yang bertugas mengurus tanaman. Ada yang menangani sampah organik. Ada pula yang merawat maggot dan ikan lele.

BUDIDAYA: Maggot dapat digunakan sebagai sumber protein untuk pakan ikan maupun hewan lainnya - Foto Dok

Enam bulan berjalan, perubahan mulai terasa. Tanaman yang mereka budidayakan sudah beberapa kali dipanen. Sebagian hasilnya dijual, sebagian lainnya dibagikan kepada masyarakat sekitar.

“Tanaman sayuran yang sudah kami jual seperti pare. Per kilogram kemarin dijual Rp15 ribu, tergantung harga pasar. Sebagian hasil panen juga kami bagikan kepada warga sekitar,” kata Kurniati.

Bagi kelompok ini, hasil penjualan mungkin belum menjadi angka besar. Namun, ada sesuatu yang lebih penting dari nominal rupiah.

Mereka mulai memperoleh pengalaman mengelola kegiatan ekonomi secara bersama-sama.

Mereka belajar bahwa kegiatan yang awalnya dilakukan untuk menjaga kebersihan lingkungan dapat berkembang menjadi sumber manfaat bagi keluarga dan masyarakat.

Ikan lele yang menjadi bagian dari program juga mulai menunjukkan hasil. Saat ini, budidayanya masih dalam tahap pengembangan dan telah memasuki panen perdana.

Di antara berbagai aktivitas KSM Patih Masih, budidaya maggot menjadi salah satu mata rantai yang menarik.

Juniarti, anggota KSM Patih Masih yang menangani pengolahan sampah organik dan budidaya maggot, mengatakan proses tersebut dimulai dari sampah yang dikumpulkan dari lingkungan sekitar.

Sisa makanan dan buah-buahan dipilah, kemudian dicacah dan difermentasi sebelum digunakan sebagai media pakan.

“Setelah difermentasi, nanti menghasilkan baby maggot. Baby maggot itu kami beri pakan yang lunak, seperti bekas tempe, bekas tahu, atau buah,” jelas Juniarti.

Maggot kemudian tumbuh dan berkembang melalui beberapa fase hingga menjadi lalat BSF.

Telur yang dihasilkan lalat BSF kembali menjadi awal dari siklus berikutnya.

Dengan pola tersebut, pengelolaan sampah tidak berhenti ketika sampah organik masuk ke wadah pengolahan.

Sampah itu kembali masuk ke dalam rantai produksi.

Maggot dapat digunakan sebagai sumber protein untuk pakan ikan maupun hewan lainnya. Sementara sisa pengolahan organik dapat dimanfaatkan sebagai kompos.

“Telur itu bisa dijadikan baby maggot lagi. Dari satu telur bisa menghasilkan sekitar 1.000 baby maggot. Maggot ini sudah beberapa kali kami panen dan dijual sebagai sumber protein untuk pakan ternak, burung, maupun ikan,” tutur Juniarti.

Di situlah konsep ekonomi sirkular menjadi sesuatu yang tidak lagi terdengar sebagai istilah rumit.

Ia hadir dalam aktivitas sehari-hari.

Sampah menjadi pakan. Pakan menjadi bagian dari budidaya ikan. Sisa pengolahannya kembali menjadi pupuk. Pupuk membantu tanaman tumbuh. Tanaman menghasilkan pangan dan dapat dijual.

Siklus tersebut terus berputar.

Program SWS di KSM Patih Masih mendapat dukungan dari PT Pertamina Patra Niaga Integrated Terminal Banjarmasin.

Community Development Officer PT Pertamina Patra Niaga IT Banjarmasin, Adi Lukman Arifin, mengatakan program tersebut dirancang agar masyarakat, khususnya warga RW 1 Kelurahan Kuin Cerucuk, mampu mengelola sampah organik sekaligus memperoleh manfaat ekonomi.

Menurutnya, persoalan sampah tidak dapat diselesaikan oleh satu pihak.

Karena itu, Pertamina berupaya membangun kolaborasi dengan pemerintah, termasuk Dinas Lingkungan Hidup, serta sejumlah pihak lainnya.

“Program ini kami rancang agar masyarakat di sini bisa meningkatkan taraf kesejahteraannya melalui sesuatu yang selama ini disebut orang sebagai sampah. Harapan kami, sampah ini justru bisa menjadi nilai ekonomi bagi mereka,” ujar Adi.

Dukungan yang diberikan tidak hanya berupa pembangunan fasilitas.

Pertamina juga mendorong peningkatan kapasitas anggota kelompok melalui pelatihan dan studi banding.

EDUKASI: Community Development Officer PT Pertamina Patra Niaga IT Banjarmasin, Adi Lukman Arifin bersama para anggota KSM Patih Masih - Foto Dok

Anggota KSM Patih Masih telah diajak melihat pengembangan budidaya maggot di TPA Banjar Bakula serta Bincau.

Mereka juga mendapat edukasi melalui kegiatan yang melibatkan Universitas Islam Kalimantan (Uniska). Mahasiswa diajak berkolaborasi dalam memberikan pemahaman kepada masyarakat sekaligus mencari solusi terhadap persoalan sampah.

“Untuk bangunan di sini, infrastrukturnya, termasuk sarana dan prasarana, itu dari kami. Selain itu, kami juga melakukan studi banding dan sosialisasi agar program ini tidak berhenti hanya karena bantuan sudah selesai,” katanya.

Harapannya sederhana: ketika dukungan perusahaan nantinya berkurang, masyarakat tetap mampu menjalankan kegiatan tersebut secara mandiri.

Bagi Kurniati dan anggota kelompok lainnya, perjalanan KSM Patih Masih baru memasuki tahap awal.

Mereka masih ingin mengembangkan budidaya ikan, menambah tanaman pangan, memperluas pengolahan sampah organik, dan meningkatkan kemampuan mengelola hasil produksi.

Ada pula rencana pelatihan budidaya lalat BSF untuk memperkuat pengelolaan maggot.

Bagi para ibu rumah tangga itu, keberhasilan bukan hanya ketika kelompok menghasilkan uang.

Ada pengetahuan baru yang mereka dapatkan. Ada rasa percaya diri karena mampu mengelola kegiatan secara bersama-sama. Ada pula harapan agar lingkungan tempat mereka tinggal menjadi lebih bersih.

“Rata-rata anggota kami ibu rumah tangga. Kami mengelola kelompok secara bergiliran. Kami mendapat banyak ilmu dan berharap ke depan bisa mandiri meskipun nantinya bantuan sudah tidak ada,” kata Kurniati.

Kalimat itu mungkin terdengar sederhana. Namun justru di situlah makna pemberdayaan menemukan bentuknya.

Sebab bantuan yang paling berarti bukanlah bantuan yang membuat masyarakat terus menunggu. Melainkan bantuan yang perlahan membuat mereka mampu berdiri dengan kemampuan sendiri.

Di bawah Jembatan Kuin, perubahan itu tumbuh dari sesuatu yang selama ini kerap dianggap sebagai persoalan.

Dari tangan para ibu, sampah dipilah. Dari sampah, lahir maggot. Dari maggot, ikan dapat diberi pakan. Dari sisa pengolahan, kompos dihasilkan. Dari kompos, tanaman tumbuh. Dari tanaman, pangan dipanen dan sebagian dijual.

BACA JUGA: FT Rewulu Jadi Garda Pasokan BBM untuk Jawa Tengah dan DIY

Siklus itu mungkin belum besar. Tetapi bagi 16 perempuan yang menjalankannya, setiap panen adalah bukti bahwa mereka sedang bergerak.

Kolong jembatan yang dahulu nyaris tak memiliki fungsi kini menjadi ruang belajar tentang lingkungan, ekonomi, dan kemandirian.

Di sana, perubahan tidak datang dengan suara keras. Ia tumbuh perlahan, dari tangan-tangan yang setiap hari memilih mana yang harus dibuang dan mana yang masih bisa diselamatkan.

Dan semuanya berawal dari satu keputusan sederhana, yakni memilih sampah. (fs/ak)

Lebih baru Lebih lama