| PANEN: Buah naga bergelantungan menunggu waktu panen - Foto Dok |
HABARDIGITAL.COM, BALIKPAPAN – Matahari belum sepenuhnya meninggi ketika hamparan hijau di Jalan Soekarno-Hatta Kilometer 21, RT 41, Balikpapan, mulai terasa hidup. Di antara sulur dan batang tanaman, buah naga bergelantungan menunggu waktu panen. Di sudut lain, markisa, sorgum, jagung, sayuran dan pisang tumbuh berdampingan.
Lahan sekitar 1,5 hektare itu bukan sekadar kebun. Bagi para perempuan yang tergabung dalam Kelompok Wanita Tani (KWT) Daun Sop Ceria, tempat tersebut telah menjadi ruang untuk belajar, bekerja, berbagi, sekaligus menumbuhkan harapan.
“Semua tanaman bisa ceria. Asalkan yang merawatnya juga ceria, rajin menyiram, merawat, dan menjaga,” kata Ketua KWT Daun Sop Ceria, Sanati, saat ditemui, Kamis (27/8/2026).
Nama Daun Sop Ceria pun lahir dari semangat sederhana itu. Kelompok yang mulai berkembang sejak 2022 tersebut pada awalnya hanya mengelola lahan yang lebih kecil. Tanaman yang dibudidayakan didominasi sayuran, mengikuti arahan dan dukungan program pemerintah.
BACA JUGA: Sambut HUT ke-81 RI, Pelindo Gelar Pemeriksaan Kesehatan Gratis bagi Lansia
Namun, perjalanan waktu membawa mereka menemukan potensi lain, yakni buah naga.
Tanaman yang semula hanya menjadi bagian dari kebun itu justru berkembang menjadi komoditas unggulan. Bagi anggota KWT, buah naga bukan hanya tanaman yang menghijaukan lahan, melainkan sumber penghasilan yang dapat dipanen secara berkala.
“Buah naga itu betul-betul mendatangkan hasil yang nyata karena panen tiap bulan. Penghasilan semakin bertambah dan anggota semakin mendapatkan hasil,” ujar Sanati.
Dalam sekali panen, hasil buah naga dapat mencapai sekitar 500 kilogram. Dengan harga yang berada di kisaran Rp10.000 hingga Rp20.000 per kilogram, pendapatan dari komoditas tersebut dapat mencapai sekitar Rp6 juta–Rp7 juta perbulan, tergantung hasil panen dan harga pasar.
KWT terlebih dahulu melakukan pencatatan dan pembukuan. Setelah itu, anggota bermusyawarah menentukan pemanfaatan hasil usaha, baik untuk pengembangan kelompok maupun dibagikan kepada anggota.
Di situlah kebun tersebut menemukan makna lain: hasil yang tumbuh dari tanah, kemudian kembali untuk menguatkan orang-orang yang merawatnya.
Perubahan KWT Daun Sop Ceria tidak terlepas dari kehadiran program tanggung jawab sosial Pertamina.
Sebelum PT Pertamina Patra Niaga masuk, kelompok tersebut sebenarnya telah ada. Namun, aktivitasnya masih terbatas di lahan kecil di sisi lain. Dukungan yang diberikan kemudian membuat kelompok memiliki ruang yang lebih berkembang, termasuk pembangunan gazebo dan sejumlah fasilitas penunjang.
“Sebelum Pertamina masuk, kami memang sudah ada kelompok KWT, tetapi hanya satu sisi lahan saja. Begitu Pertamina masuk, di sisi lainnya sudah dibangunkan gazebo dan macam-macam. Setelah ada Pertamina, kami bisa berkembang,” tutur Sanati.
Lahan yang digunakan merupakan milik warga setempat. Pertamina hadir bukan dengan mengambil alih lahan, melainkan memberikan pendampingan agar potensi yang ada dapat dikembangkan.
Area Manager Communication, Relations & CSR PT Pertamina Patra Niaga Regional Kalimantan, Edi Mangun, mengatakan program tersebut merupakan bagian dari tanggung jawab sosial perusahaan kepada masyarakat.
“Kami memiliki tanggung jawab sosial kepada masyarakat. Dalam mekanismenya, kami melakukan program sesuai dengan keputusan dan surat Menteri BUMN terkait pemberdayaan masyarakat sebagai bentuk tanggung jawab sosial yang harus kami lakukan,” jelas Edi.
Menurut dia, program tersebut merupakan salah satu dari berbagai program pemberdayaan yang dijalankan Pertamina Patra Niaga di wilayah Kalimantan.
Pendampingan dilakukan melalui berbagai bentuk, mulai dari pelatihan teknik budi daya, pembibitan, perawatan tanaman, hingga edukasi mengenai pemasaran hasil pertanian.
“Lahan milik warga, kami membantu dengan pelatihan-pelatihan terkait pembibitan, masa pertumbuhan tanaman, dan lainnya. Kami juga memberikan edukasi terkait bagaimana memasarkan hasilnya,” terang Edi.
BACA JUGA: Pertamina Patra Niaga Regional Kalimantan Pastikan Stok LPG 3 Kg di Kalimantan Selatan Aman
Bagi KWT Daun Sop Ceria, pendampingan itu bukan hanya menghasilkan kebun yang lebih produktif. Lebih jauh, para anggota memperoleh kesempatan untuk mengembangkan kemampuan dan membangun kemandirian ekonomi.
Kini, sekitar 15 anggota masih aktif menjalankan kegiatan KWT.
Ada satu pemandangan menarik di kebun itu. Sebagian tanaman sengaja diletakkan di bagian luar agar mudah dijangkau orang yang melintas. Siapa pun boleh mengambil hasil tanaman tertentu yang tersedia secara gratis.
Bagi Sanati, berbagi hasil kebun adalah bagian penting dari keberadaan kelompok tersebut. Kebun tidak boleh hanya memberikan manfaat kepada mereka yang berada di dalamnya.
“Tanaman saya taruh di luar supaya siapa pun yang lewat bisa memanen. Jadi, kelompok ini bukan hanya kelompok, tetapi kami masih bisa berbagi. Kami anggap ini sebagai tempat untuk menanamkan amal ibadah,” katanya.
Semangat berbagi juga diwujudkan melalui pemberian hasil tanaman kepada berbagai pihak, termasuk untuk kegiatan sosial.
Bagi Sanati, setiap tanaman yang tumbuh membawa manfaat lebih luas daripada sekadar nilai jual. Ada kepuasan ketika hasil kerja bersama dapat dinikmati orang lain.
KWT Daun Sop Ceria juga berupaya menerapkan pola pertanian yang saling terhubung.
Jagung, misalnya, ditanam sebagai bagian dari program ketahanan pangan. Di sisi lain, kelompok juga memiliki kandang ayam petelur. Limbah dari kegiatan peternakan tidak serta-merta dibuang, tetapi dimanfaatkan kembali sebagai bahan pendukung tanaman.
Sisa organik juga diolah menjadi kompos. Prinsipnya sederhana: apa yang tersisa dari satu kegiatan diupayakan dapat menjadi manfaat bagi kegiatan lainnya.
Mereka juga mengembangkan berbagai potensi lain, termasuk kolam ikan papuyu dan tanaman azolla. Ke depan, kelompok berharap dapat mengolah azolla menjadi bahan pakan sehingga tidak hanya memenuhi kebutuhan sendiri, tetapi juga memiliki peluang untuk dikembangkan menjadi produk bernilai ekonomi.
Semua itu tumbuh perlahan. Tidak instan. Sama seperti buah naga yang harus dirawat sebelum akhirnya menghasilkan buah.
Dua tahun lebih pendampingan membuat perubahan di KWT Daun Sop Ceria tidak hanya terlihat dari bertambahnya tanaman atau fasilitas. Ada perubahan yang lebih sulit diukur, tumbuhnya kepercayaan diri dan jejaring para perempuan yang terlibat di dalamnya.
| KEBUN: Lahan sekitar 1,5 hektare itu bukan sekadar kebun, tempat tersebut telah menjadi ruang untuk belajar, bekerja, berbagi, sekaligus menumbuhkan harapan - Foto Dok |
Kebun yang dahulu sederhana kini menjadi ruang pertemuan. Orang datang berkunjung, belajar, bertukar pengalaman, dan melihat bagaimana lahan warga dapat dikelola menjadi sumber manfaat bersama.
Bagi Sanati, kedatangan orang-orang dari luar juga menjadi pengalaman tersendiri.
“Selama ada KWT ini, kami jadi dikenal. Ada kunjungan seperti ini. Itu luar biasa bagi saya,” ujarnya.
Namun, kebanggaan terbesar bukanlah ketika kebun mereka didatangi banyak orang. Melainkan ketika hasil dari kebun itu kembali kepada masyarakat.
Buah naga yang dipanen menjadi pendapatan. Sayuran menjadi bahan pangan. Sebagian hasilnya dibagikan. Limbah diolah kembali menjadi kompos. Tanaman yang berada di pinggir kebun dapat dipetik warga yang melintas.
BACA JUGA: Pegadaian Dorong Pande Emas Banjarmasin Naik Kelas melalui Program Pemberdayaan
Sebuah siklus kecil terbentuk di lahan 1,5 hektare itu. Dari tanah, tumbuh tanaman. Dari tanaman, tumbuh penghasilan. Dari penghasilan, tumbuh kemandirian. Dan dari kebersamaan, tumbuh kepedulian.
KWT Daun Sop Ceria pada akhirnya menunjukkan bahwa pemberdayaan tidak selalu harus dimulai dari sesuatu yang besar. Terkadang, ia cukup dimulai dari sepetak lahan, sekelompok perempuan, dan kemauan untuk merawatnya bersama-sama.
Di KM 21, buah naga mungkin menjadi komoditas unggulan. Namun, yang sesungguhnya sedang dipanen para perempuan itu adalah sesuatu yang jauh lebih berharga harapan untuk tumbuh dan berkembang bersama. (fs/ak)