BMKG Prediksi Kemarau Makin Kering, Imbau Masyarakat Bijak Gunakan Air

KERING: Kondisi kemarau yang lebih kering terhadap tanah - Foto Net

HABARDIGITAL.COM, JAKARTA - Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) memperkirakan sebagian besar wilayah Indonesia masih akan mengalami musim kemarau hingga September 2026. Sejumlah daerah bahkan diprediksi baru memasuki musim hujan pada Oktober hingga November.

Perbedaan durasi musim kemarau dipengaruhi karakteristik masing-masing Zona Musim (ZOM). Karena itu, waktu berakhirnya musim kemarau tidak berlangsung serentak di seluruh wilayah Indonesia.

Berdasarkan pemutakhiran data BMKG hingga pertengahan Juli 2026, sebanyak 509 ZOM atau sekitar 54,5 persen wilayah daratan Indonesia telah memasuki musim kemarau. Sementara itu, 77 ZOM atau 11,8 persen masih berada dalam periode musim hujan dan 113 ZOM atau 33,7 persen memiliki pola satu musim.

BACA JUGA: Gubernur H. Muhidin Sambangi Pasar Keramat Barabai HST Cek Harga Bapok

BMKG memprediksi puncak musim kemarau 2026 terjadi pada Agustus. Periode tersebut diperkirakan mencakup sekitar 48,84 persen wilayah daratan Indonesia. Selanjutnya, pada September, wilayah yang mengalami puncak kemarau diperkirakan mencapai sekitar 25,41 persen.

Kondisi kemarau juga ditandai dengan meningkatnya jumlah hari tanpa hujan (HTH) di sejumlah daerah. BMKG mencatat kategori HTH bervariasi, mulai dari sangat pendek hingga panjang. Rekor HTH terlama yang tercatat mencapai 80 hari di Pos Hujan (PRH) Katerban, Kaligesing, Kabupaten Purworejo, Jawa Tengah.

Selain berlangsung cukup panjang, BMKG memperkirakan sebagian wilayah Indonesia akan mengalami musim kemarau yang lebih kering dibandingkan kondisi normal.

Sebanyak 437 ZOM atau sekitar 48,77 persen luas daratan Indonesia diproyeksikan mengalami durasi musim kemarau yang lebih panjang dari kondisi normal.

Sementara itu, peningkatan curah hujan diperkirakan terjadi secara bertahap mulai Oktober hingga November 2026, meskipun waktu peralihan menuju musim hujan akan berbeda pada setiap wilayah.

Kondisi kemarau yang lebih kering juga meningkatkan potensi kebakaran hutan dan lahan (karhutla), terutama di wilayah yang memiliki tingkat kerawanan tinggi.

Hingga 29 Juli 2026, BMKG mendeteksi 5.019 titik panas (hotspot) di berbagai wilayah Indonesia. Sebaran titik panas terbanyak tercatat di Kalimantan Barat, Papua Selatan, dan Riau.

Kepala BMKG Teuku Faisal Fathani mengatakan pihaknya terus memperkuat langkah mitigasi untuk menghadapi berbagai potensi bencana hidrometeorologi selama periode kemarau.

Salah satu langkah yang dilakukan adalah memperkuat dan memperluas pelaksanaan Operasi Modifikasi Cuaca (OMC) di sejumlah wilayah prioritas.

“BMKG mengambil langkah proaktif dengan memperkuat dan memperluas OMC sebagai bentuk komitmen mitigasi bencana hidrometeorologi secara terpadu di Indonesia,” kata Faisal di Gedung MHEWS BMKG, Jakarta, Kamis (30/7/2026).

BACA JUGA: Puluhan Regu Ramaikan Gerak Jalan HUT RI dan Hari Jadi Kalsel di Banjarbaru

BMKG juga mengingatkan masyarakat untuk menggunakan air secara bijak, meningkatkan kewaspadaan terhadap potensi kebakaran lahan, serta mengikuti informasi prakiraan cuaca dan iklim secara berkala.

Masyarakat diimbau tidak hanya berpatokan pada prediksi umum karena kondisi atmosfer dapat berubah seiring perkembangan fenomena iklim global. Pemutakhiran informasi dari BMKG diperlukan untuk mengetahui perkembangan musim di masing-masing wilayah.

Dengan demikian, sebagian besar wilayah Indonesia diperkirakan masih mengalami musim kemarau hingga September 2026, sedangkan sejumlah daerah berpotensi mulai memasuki musim hujan pada Oktober hingga November. Waktu peralihan tersebut dapat berbeda antara satu wilayah dan wilayah lainnya. (net/ak)

Lebih baru Lebih lama